Call: Willy | Mevi | Isna | Ifah | WA

Informasi terkait ibadah ke Tanah Suci untuk Anda: akomodasi, jadwal penerbangan, manasik, dan yang terkait.

Umrah Hemat Berkah. Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi. (Mulai Rp. 18 juta-an!)
Haji Plus
Umroh Murah
Wisata Religi
LA + Visa
Ticketting
Travel Ustadz Al-Habsyi
Umroh Murah
Travel Hemat Berkah Mulai
Rp 18 Juta-an.
Biro Wisata Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi.
0813-8071-0102 (Willy)
0878-8190-3636 (Mevi)
0813-1951-0404 (Elvanny)
0822-1366-0707 (Isna)
0813-8071-0203 (Lia)
Ketuk Untuk Mengirim Whatsapp
~ Assalaamu 'alaikum Wr. Wb. Para jamaah yang Allah rahmati, sudah dibuka umrah tahun 2018-2019. Silahkan dipilih Paket Spektakuler, Super Spekta, Fantastis, dan lain-lain. Daftar segera sebelum seat penuh. Salam hangat. Wassalamu 'alaikum Wr. Wb. Alsha Travel ~

Apa Bidah-bidah Bulan Puasa dan Apa Alternatif Terbaiknya?

Apa Bidah-bidah Bulan Ramadhan dan Apa Alternatif Terbaiknya?
Bidah #1: Membangunkan orang-orang untuk sahur

Tradisi membangunkan orang-orang untuk sahur, telah membudaya di Indonesia khususnya. Seringkali kita dapati suara dari masjid dengan menggunakan pengeras suara untuk membangunkan masyarakat di sekitarnya untuk bangun sahur.

Yang lain lagi, banyak juga di daerah-daerah yang membangunkan sahur, dilakukan oleh rombongan orang yang ronda malam dengan menggunakan kentongan.

Ini hanyalah tradisi saja yang kerap dilakukan dari tahun ke tahun. Juga cara membangunkan sahur yang berbeda-beda di tiap daerah, menunjukkan bahwa hal ini tidak menjadi syariat mutlak yang pernah diajarkan Rasulullaah.

Alternatif Terbaik:

Di setiap rumah, setiap kepala keluarga mempunyai tanggungjawab membangunkan semua anggota keluarganya yang akan berpuasa. Bisa suami atau istri. Jika tidak ada kepala keluarga, maka siapa yang tertua di rumah itu bisa kakak tertua, paman, atau bibi.

Jika diniatkan untuk sahur sebelum tidur Insya Allah bisa terbangun saat sahur. Untuk berjaga-jaga ditambah dengan memasang alarm.


Bidah #2: Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika selesai salam shalat tarawih

Banyak sekali kita temui di masjid-masjid tradisi ketika selesai salam tarawih. Ada seseorang yang memimpin jamaah membaca dzikir-dzikir dengan mengeraskan suaranya.

Perbuatan dengan mengeraskan suara ini merupakan salah satu bentuk bid’ah yang tidak diajarkan di masa Nabi Muhammad salallaahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pula dicontohkan oleh para sahabat dan orang-orang soleh terdahulu.

Dengan ini, hendaknya apa yang telah dicontohkan oleh para anbiya’ dan orang-orang soleh terdahulu, tidak ditambah-tambahkan dengan syariat yang baru. Juga hendaklah kita sebagai umat muslim selalu merasa cukup dengan apa yang telah dicontohkan.

Juga dengan tidak membuat perkara yang baru, yang tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam.

Alternatif terbaik:

Setiap jamaah masing-masing memanjatkan doa agar semua kesulitan yang saat itu sedang membelit diberikan jalan keluar oleh Allah. Juga rencana-rencana dan tujuannya saat itu dimudahkan jalannya oleh Allah.


Bidah #3: Melafazkan niat puasa

Niat untuk berpuasa di bulan Ramadhan tidaklah harus dilafadzkan. Karena sebuah niat, meski diucapkan di dalam hati saja, itu sudah terhitung niat dan Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan di dalam hati.

Bid’ah yang sering kita jumpai di masyarakat bahwa, setiap selesai shalat tarawih, imam masjid memimpin membaca niat puasa untuk keesokan harinya, bersama-sama para jamaah masjid.

Perbuatan seperti ini tidak ada syariatnya dan tidak dicontohkan semasa Rasulullaah salallaahu ‘alaihi wa sallam.

Alternatif terbaik:

Imam masjid cukup mengingatkan kepada para jamaah agar jangan lupa meniatkan puasa untuk esok harinya. Bisa disaat selesai tarawih atau besok ketika sahur.

Niat puasa bisa dicontohkan oleh imam masjid untuk diikuti oleh jamaah untuk diketahui. Namun niat puasanya sendiri yang sebenarnya diniatkan di dalam hati oleh masing-masing jamaah.

Menurut jumhur ulama, untuk puasa Ramadhan sebaiknya sudah mulai diniatkan selesai maghrib di malam sebelumnya.


Bidah #4: Waktu imsakiyah

Dari kecil, mungkin kita semua sudah mengenal tradisi waktu imsak (artinya menahan, yakni mulai menahan dari makan dan minum). Di mana kita sudah tidak boleh makan dan minum lagi ketika terdengarnya waktu imsak. Baik melalui peringatan imsak di radio, masjid, maupun televisi.

Aktivitas ini menjadi biasa di lingkungan kita. Padahal pada masa Rasulullah sangat menganjurkan untuk mengakhirkan makan sahur.

Juga di dalam hadist riwayat Musim disebutkan. Sahabat Anas meriwayatkan dari Zaid bin Sabit radhiyallahu ‘anhuma,

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau shalat. Maka kata Anas, “Berapa lama jarak antara azan dan sahur?”, Zaid menjawab, “Kira-kira 50 ayat membaca ayat al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Alternatif terbaik:

Sebagai umat Islam, haruslah mengetahui kapan waktu adzan shubuh setiap harinya, bukan waktu imsak. Makan dan minumlah hingga sebelum waktu adzan shubuh itu. Lalu segera menyikat gigi dan membersihkan mulut.

Karena melambatkan sahur hingga hampir saat tiba waktu subuh adalah lebih baik daripada menahan makan dan minum di waktu imsak.


Bidah #5: Menunda azan magrib dan berbuka puasa dengan alasan kehati-hatian

Tradisi ini sangat bertentangan sekali dengan perintah Nabi Muhammad salallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mnyegerakan berbuka.

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari Muslim)

Alternatif terbaik:

Jika sudah jelas waktu terbenamnya matahari, atau sudah tiba waktu adzan maghrib dari sumber informasi waktu adzan, atau sudah terdengar adzan maghrib dari masjid atau surau di sekitar tempat tinggal kita, maka segeralah beryukur kepada Allah dan berbuka puasa.

Jika semua tanda-tanda masih meragukan, barulah menunggu sampai ada tanda-tanda yang memberikan keyakinan kuat bahwa waktu maghrib telah tiba.


Bidah #6: Takbiran

Hal seperti ini sering kita lihat hampir di semua wilayah tanah air. Tradisi memukul bedug dan takbiran di sepanjang jalan dalam menyambut hari raya Iidul Fitri.

Alternatif terbaik:

Mengumandankan takbir saat hendak keluar rumah, hingga tiba pada tempat untuk melaksanakan shalat Ied. Ini adalah sunnah yang lebih baik daripada tradisi memukul bedug dan takbiran di sepanjang jalan.


Bidah #7: Perayaan Nuzulul Qur’an

Yaitu perayaan memperingati hari atau waktu turunnya ayat suci Al Quran.

Perayaan Nuzul Quran ini biasa dilaksanakan pada tanggal 17 Ramadhan. Sedangkan pada prakteknya, Rasulullah tidak pernah melakukan perayaan-perayaan semacam ini.

Alternatif terbaik:

Lebih fokus pada membaca dan mentadabburi ayat-ayat Al Qur'an secara istiqomah setiap harinya terutama di bulan Ramadhan. Lebih baik lagi jika minimal bisa 1x khatam Al Qur'an dibandingkan hanya merayakan Nuzulul Qur'an saja.


Bidah #8: Ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan

Untuk hal yang satu ini, sudah menjadi tradisi yang sangat membumi di masyarakat muslim, khusunya di Indonesia.

Berziarah kubur menjelang bulan Ramadhan bukan merupakan hal yang disyariatkan. Bahkan tidak sedikit dijumpai, orang-orang yang berziarah kubur dengan melakukan perbuatan yang syirik.

Melaksanakan ziarah kubur pada hakekatnya adalah, menjadikan orang yang melaksanakan ziarah tersebut teringat dengan kematian. Dan diharapkan setelah itu, dia lebih berhati-hati dalam berbuat. Serta lebih banyak melakukan amal saleh, sebagai bekal menghadapi kematian nantinya.

Namun, untuk even yang mengkhusukan berziarah sebelum Ramadhan, tidak ada tuntunan syariatnya. Sehingga hal seperti ini tegolong ke dalam bid’ah yang tidak diajarkan orang-orang soleh terdahulu.

Alternatif terbaik:

Berziarah kubur tidak harus dikhususkan saat menjelang datangnya bulan Ramadhan. Apalagi jika menganggap bahwa ziarah kubur menjelang Ramadhan adalah suatu sunnah apalagi kewajiban. Dan untuk mendoakan orang yang dikubur pun, tidak harus dengan berziarah ke kuburan.

Walau mungkin bisa lebih khusyu mendoakan orang yang di kuburan, bukan berarti setelah ziarah dari kuburan lalu tidak mendoakan kembali orang yang telah dikubur itu.

Semakin sering berziarah kubur dengan tanpa melalaikan ibadah dan kewajiban utama lainnya, adalah semakin baik jika bisa mengingatkan akan kematian dan semakin memotivasi untuk semakin banyak berbuat kebaikan.

Demikianlah beberapa bid’ah-bid’ah yang tidak disyariatkan menjelang dan saat bulan Ramadhan.

Kesimpulan

Semoga kita sebagai umat Muslim, senantiasa cukup dengan mencontoh dan melaksanakan dengan baik semua sesuai dengan tuntunan yang telah disyariatkan dalam Islam dan dicontohkah oleh Rasulullah.

Back To Top