Call: Willy | Mevi | Isna | Ifah | WA

Informasi terkait ibadah ke Tanah Suci untuk Anda: akomodasi, jadwal penerbangan, manasik, dan yang terkait.

Umrah Hemat Berkah. Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi. (Mulai Rp. 18 juta-an!)
Haji Plus
Umroh Murah
Wisata Religi
LA + Visa
Ticketting
Travel Ustadz Al-Habsyi
Umroh Murah
Travel Hemat Berkah Mulai
Rp 18 Juta-an.
Biro Wisata Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi.
0813-8071-0102 (Willy)
0878-8190-3636 (Mevi)
0813-1951-0404 (Elvanny)
0822-1366-0707 (Isna)
0813-8071-0203 (Lia)
Ketuk Untuk Mengirim Whatsapp
~ Assalaamu 'alaikum Wr. Wb. Para jamaah yang Allah rahmati, sudah dibuka umrah tahun 2018-2019. Silahkan dipilih Paket Spektakuler, Super Spekta, Fantastis, dan lain-lain. Daftar segera sebelum seat penuh. Salam hangat. Wassalamu 'alaikum Wr. Wb. Alsha Travel ~

Belum Mengqadha Puasa Sampai Datang Puasa Berikutnya?

Belum Mengqadha Puasa Sampai Datang Ramadhan Berikutnya?
Ramadhan menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu bagi kaum muslimin yang beriman.

Di mana bulan ini terdapat banyak sekali keberkahan, mulai dari amal ibadah yang dilipat gandakan pahalanya, sampai aktivitas maksiat yang ditutup di bulan ini.

Ini menjadi berkah sendiri yang dapat dirasakan hampir di banyak kalangan.

Dan juga di bulan ini, banyak sekali yang berlomba-lomba untuk melakukan amal kebaikan; mulai dari target tilawah yang lebih banyak, shalat tarawih dan sunnah lainnya, juga lebih banyak yang bersedekah di bulan ramadhan karena keutamaannya yang begitu dahsyat.

Namun sayangnya, terkadang ibadah puasa yang seharusnya bisa dilaksanakan dengan maksimal, menjadi batal karena beberapa alasan tertentu. Seperti datang haid bagi wanita muslimah, sakit, bangun kesiangan dan lupa berniat, juga tidak sempat sahur, ibu hamil dan menyusui, dll.


Seseorang punya hutang puasa, namun belum mengqadha hingga datang Ramadhan berikutnya

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan hal tersebut:

1. Karena alasan sakit

Ada dua kondisi karena alasan sakit ini:

Kondisi Pertama: Jika dia meninggalkan puasa dan menunda untuk mengqadha karena belum memiliki kemampuan. 

Maka wajib bagi dia untuk mengqadha sesuai jumlah hari yang ditinggalkannya. Apabila wanita tersebut meninggalkan kewajiban puasa dan menunda qadha puasanya karena ketidak mampuannya, maka wajib baginya untuk mengqadha hari-hari yang ditinggalkannya itu, saat dia telah memiliki kemampuan untuk mengqadhanya di hari yang lain.

Sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al-Baqarah: 185)

Kondisi Kedua: Jika seseorang itu mempunyai sakit yang sifatnya permanen. Dan dikhawatirkan bila dengan puasa, akan lebih membahayakan diri dia. 

Untuk mengganti puasa yang tertinggal itu, maka cukup baginya untuk membayar fidyah. Dengan memberi makan orang miskin sebanyak 1,5 kg, sesuai dengan makanan pokok di daerah dia, dikalikan dengan jumlah hari puasa yang tertinggal.

Sesuai dengan firman Allah sebagai berikut:

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.”  (Qs. Al-Baqarah: 184)

Untuk kondisi kedua ini, juga berlaku untuk orang yang meninggal. Lalu dia masih punya tanggungan puasa yang belum sempat dibayar. Maka, wajib bagi keluarganya untuk membayarkan fidyah sejumlah hari yang ditinggalkan orang yang meninggal tersebut. [Lihat penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab I'laamul Muwaqqi'iin (III/554) dan di Tahdziibus Sunnan Abi Dawud (III/279-282)]


2. Orang tersebut sengaja mengulur-ngulur waktu. 

Hingga sampai di Ramadhan berikutnya, belum juga mengqadha puasanya

Dalam kondisi seperti ini. Hendaknya dia banyak-banyak bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena sifat lalai dan kurang bersungguh-sungguh di dalam dirinya. Sehingga lalai untuk mengqadha puasa yang telah menjadi kewajibannya itu.

Lalu hendaknya dia mengqadha puasanya setelah Ramadhan berikutnya. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133,

“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu…” 

3. Kurangnya pemahaman agama yang dimiliki seseorang serta dia tidak tahu pasti berapa banyaknya hari meninggalkan puasa Ramadhan. 

Untuk kondisi seperti ini, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi saat diwajibkan seseorang berpuasa.

Diantaranya: baligh, berakal sehat dan beragama Islam. Jika persyaratan itu terpenuhi. Maka, telah diwajibkan baginya untuk berpuasa. Dan juga mengqadha puasa yang tertinggal, terhitung sejak persyaratan tersebut telah terpenuhi.

Juga terdapat kondisi alami, di mana orang tersebut berada di lingkungan pedalaman yang masih sangat jahil. Juga belum mengerti masalah syariat.

Untuk hal ini, hukumnya tidak ada dosa baginya ketika meninggalkan puasa di tahun yang lalu.

Akan tetapi, jika sudah mengetahui syariat yang benar, maka wajib baginya untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Serta mengqadha puasa yang dia tinggalkan semasa jahiliyah tersebut. [Lihat Fataawa Nur 'ala ad-Darb, Syaikh Utsaimin, hal. 65-66 dan Fatwa-Fatwa Tentang Wanita (I/227-228)]

Jika dia ragu dan tidak tahu berapa jumlah hari puasa yang tertinggal. Maka bisa diperkirakan, karena Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya.

Sesuai firman Allah,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)

Juga firman Allah berikut,

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu,” (Qs. At-Taghaabun: 16)

Demikianlah, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang lalai. Dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban sebagai Hamba Allah, yang telah banyak sekali diberikan kenikmatan oleh-Nya.

Wallahu a’lam bisshawwab.


Back To Top