Call: Willy | Mevi | Isna | Ifah | WA

Informasi terkait ibadah ke Tanah Suci untuk Anda: akomodasi, jadwal penerbangan, manasik, dan yang terkait.

Umrah Hemat Berkah. Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi. (Mulai Rp. 18 juta-an!)
Haji Plus
Umroh Murah
Wisata Religi
LA + Visa
Ticketting
Travel Ustadz Al-Habsyi
Umroh Murah
Travel Hemat Berkah Mulai
Rp 18 Juta-an.
Biro Wisata Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi.
0813-8071-0102 (Willy)
0878-8190-3636 (Mevi)
0813-1951-0404 (Elvanny)
0822-1366-0707 (Isna)
0813-8071-0203 (Lia)
Ketuk Untuk Mengirim Whatsapp
~ Assalaamu 'alaikum Wr. Wb. Para jamaah yang Allah rahmati, sudah dibuka umrah tahun 2018-2019. Silahkan dipilih Paket Spektakuler, Super Spekta, Fantastis, dan lain-lain. Daftar segera sebelum seat penuh. Salam hangat. Wassalamu 'alaikum Wr. Wb. Alsha Travel ~

Bagaimana Menentukan Buka Puasa di Pesawat?

Bagaimana Menentukan Buka Puasa di Pesawat?
Begitu lengkapnya ajaran Islam dijelaskan kepada umat manusia di dunia ini. Sampai yang sangat detail sekalipun. Semuanya diatur dalam bingkai Diinul Islam.

Seperti halnya pengaturan saat waktu berbuka di berbagai keadaan. Dalam hal ini, bagaimana menentukan berbuka puasa di pesawat/kapal terbang?

Ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan dalam urusan berbuka dan waktu pesawat lepas landas.

Kondisi Waktu Pesawat Lepas Landas

1. Matahari telah terbenam

Lalu dia berbuka saat masih di darat. Kemudian tak seberapa lama, pesawat take off (mulai terbang) dan didapati ketika di udara, masih terdapat matahari (belum terbenam).

Dalam kondisi seperti ini, dia tidak perlu mengulang untuk meneruskan puasa dan kemudian berbuka kembali ketika di udara. Akan tetapi puasanya tetap sah ketika telah berbuka di daratan tadi.

Selain itu yang harus diperhatikan, sang pilot tidak diperkenankan untuk menurunkan pesawat hingga mendapat posisi dimana matahari sudah terbenam (tidak kelihatan lagi) agar dapat berbuka. Karena kejadian seperti ini termasuk bagian dari mencari-cari alasan.

Namun, jika memang menurunkan pesawat karena alasan kepentingan penerbangan. Maka hal tersebut diperbolehkan. Dan ketika bertepatan dengan tidak nampak lagi matahari, maka penumpang pesawat pun diperbolehkan untuk berbuka  (Syekh Ibnu Baz; dalam buku Sab’una Mas’alah Fi As-Siyam/Tujuh Puluh Masalah Seputar Puasa)


2. Matahari belum terbenam

Akan tetapi dia melihat jam ataupun televisi, bahwa sudah waktunya berbuka.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang tersebut tidak diperbolehkan berbuka. Karena dia berada pada posisi ketinggian pesawat, di mana matahari belum terbenam.

Hal ini selaras dengan firman Allah: “Maka sempurnakan puasa kalian hingga malam”

Di dalam fatwa Al-Lajnah berkata:
“Jika seseorang di waktu siang pada bulan Ramadhan berada di dalam pesawat dan dia dalam kondisi berpuasa serta ingin melanjutkan puasanya sampai malam, maka dia tidak diperkenankan untuk berbuka, kecuali saat matahari telah terbenam.”
Karena orang yang termasuk ke dalam awak pesawat, dapat disebut sebagai bagian dari musafir.


Kesepakatan Ulama

Dan para ulama telah bersepakat, bahwa seorang musafir itu boleh berbuka puasa di bulan Ramadhan. Baik dia dalam keadaan lelah maupun tidak.

Akan tetapi, jika dia masih mempunyai kemampuan dan tidak merasa berat atau lelah, maka sebaiknya meneruskan puasanya. Karena itu lebih baik.

Namun, jika memang terasa berat untuk meneruskan puasa. Maka diperbolehkan berbuka dan dia wajib mengqadha puasanya itu di bulan lainnya.


Contoh Lain

Seseorang berbuka di sebuah negara setelah matahari terbenam pada waktu itu. Lalu pesawat pun lepas landas, dan dia kemudian melihat matahari. Maka dia tetap boleh untuk meneruskan buka puasanya.

Karena hukum puasa bagi dia yaitu hukum ketika di tempat pesawat tersebut tinggal landas. Sedangkan ketika dia berada di sana, dengan waktu siangnya yang telah habis.“


Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan di atas dan dalil yang sudah diterangkan. Dapat diambil kesimpulan bahwa, panjang pendeknya waktu siang, tidaklah berpengaruh pada waktu berbuka kita. Namun waktu berbuka ditentukan dimana kita berada saat itu.

Intinya yang menjadi patokan waktu untuk berbuka adalah dimana kita berada saat itu dan tidak terlihat lagi matahari.

Back To Top