Call: Willy | Mevi | Isna | Ifah | WA

Informasi terkait ibadah ke Tanah Suci untuk Anda: akomodasi, jadwal penerbangan, manasik, dan yang terkait.

Umrah Hemat Berkah. Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi. (Mulai Rp. 18 juta-an!)
Haji Plus
Umroh Murah
Wisata Religi
LA + Visa
Ticketting
Travel Ustadz Al-Habsyi
Umroh Murah
Travel Hemat Berkah Mulai
Rp 18 Juta-an.
Biro Wisata Resmi Ust. Ahmad Al-Habsyi.
0813-8071-0102 (Willy)
0878-8190-3636 (Mevi)
0813-1951-0404 (Elvanny)
0822-1366-0707 (Isna)
0813-8071-0203 (Lia)
Ketuk Untuk Mengirim Whatsapp
~ Assalaamu 'alaikum Wr. Wb. Para jamaah yang Allah rahmati, sudah dibuka umrah tahun 2018-2019. Silahkan dipilih Paket Spektakuler, Super Spekta, Fantastis, dan lain-lain. Daftar segera sebelum seat penuh. Salam hangat. Wassalamu 'alaikum Wr. Wb. Alsha Travel ~

Hukum Puasa Ramadhan Bagi yang Bangun Kesiangan


Seringkali karena aktivitas yang begitu padat di siang harinya, ditambah lagi aktivitas ibadah taraweh dan kembali melanjutkan segala pekerjaan di malam harinya, terkadang membuat kita kesiangan untuk bangun sahur.

Atau bahkan yang lebih kebablasan lagi, sampai kesiangan bangun untuk sholat subuh.

Nah, apakah dengan bangun kesiangan, membuat puasa kita pun tidak sah alias batal?

Kita lihat dulu, apakah dia telah berniat puasa sebelumnya ataukah belum berniat puasa?

Adapun hadist yang membahas mengenai niat puasa ini sebagai berikut:

Rasulullaah bersabda:

”Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah“.  (H.R. Tirmidzi No. 662, Abu Daud No 2908, Nasa’i No. 2291 s.d 2296)

Nashiruddin Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.

Rasulullah s,a,w, bersabda:

“Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat di waktu malam. ” (H.R. Ibnu Majah No. 1690 dan Daruqutni)

Lain halnya dengan puasa pada hari Assyura yang diperintahkan Rasulullaah untuk berpuasa, mendadak diserukan di siang harinya. Sehingga bagi yang belum berencana untuk puasa atau sudah makan pun diperbolehkan untuk berpuasa.

Diceritakan kepada Abu ‘Ashim dari Yazid bin Abu ‘Ubaid dari Salamah bin Al Akwa’ radiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullaah mengutus seseorang agar menyeru manusia pada (waktu sahur) hari ‘Asyura’, bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia meneruskan makannya atau hendaklah shaum dan barangsiapa yang belum makan, maka hendaklah ia tidak makan (maksudnya meneruskan berpuasa) “. (H.R. Bukhari No. 1790)


Pendapat Beberapa Imam

1. Pendapat Imam Hanafi

Orang yang lupa berniat di malam sebelumnya kemudian kesiangan bangun, lalu langsung berpuasa Ramadhan. Dia tidak juga sempat makan sahur. Maka puasanya tetap sah dan tidak perlu dibayar di luar Ramadhan.

Ketentuan ini berlaku untuk puasa ramadhan dan puasa sunnah. Beda halnya untuk puasa yang sifatnya hutang. Haruslah berniat pada malam harinya.


2. Pendapat Imam Malik

Boleh niat puasa Ramadhan setelah terbit fajar yaitu jika benar-benar tidak sengaja untuk bangun kesiangan.

Sama seperti Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki pun memberlakukan ketentuan ini untuk puasa Ramadhan, maupun puasa sunnah. Bahkan diperbolehkan untuk berniat puasa Ramadhan untuk sebulan penuh.


3. Pendapat Imam Syafi’i 

Harus tabyīt niat (niat di malam hari), sehingga bila lupa niat di malam hari harus imsāk (tidak makan dan minum dan sebagainya) di siang harinya, selain juga berkewajiban mengqodlo puasanya.


Catatan: Menurut Imam Hanafi sebagaimana di atas sebelumnya, niat di siang hari (qabla al-zawāl) tidak apa-apa (sah puasanya).

Karena itu, para ulama Syafi’iyah menganjurkan golongan Syafii ikut pada mazhab Hanafi ini agar (sekalipun tidak niat di malam hari) puasanya tetap sah dan tidak berkewajiban qodlo.

Bahkan, lebih dianjurkan lagi golongan Syafi’i mengikuti mazhab Maliki yang meperbolehkan niat puasa 1 bulan penuh, dengan cara niat di malam hari tanggal 1 bulan Romadlon.


Pendapat Mayoritas Ulama

Menurut pendapat para ulama mayoritas, untuk lebih amannya lagi. Sebaiknya kita berniat puasa setelah Maghrib untuk berpuasa di esok harinya. Dengan begini, kita tetap bisa melanjutkan untuk puasa Ramadhan meskipun bangun kesiangan dan tidak sempat makan sahur.

Adapun lafadz niat puasa Ramadhan, bisa diucapkan dengan lisan. Atau juga bisa diniatkan di dalam hati saja. Meskipun tidak harus sesuai dengan niat lengkap untuk sahur. Karena dalam hatii pun sudah merupakan niat dan dihitung oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Namun, sekali lagi ditekankan dan disarankan bahwa dalam sahur itu ada keberkahan tersendiri.

Sehingga, kita harus pandai-pandai membagi waktu ibadah, waktu belajar, waktu kerja, dan waktu istirahat kita sesuai porsi masing-masing. Dan meniatkan untuk bangun lebih awal, berniat puasa Ramadhan dan bangun sahur. Karena bila kita telah terbiasa dengan waktu yang disiplin. Maka insya Allah segalanya akan berjalan dengan lancar.

Semoga kita bisa melaksanakan ibadah-ibadah di bulan ramadhan ini dengan lebih khusyu’ dan teratur.

Back To Top